Di era persaingan industri yang semakin ketat, perusahaan manufaktur dituntut untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko secara efektif. Risiko yang tidak dikelola dengan baik dapat mengakibatkan kerugian finansial, gangguan produksi, hingga kecelakaan kerja.
Seperti dalam industri manufaktur, pengelolaan risiko merupakan aspek vital untuk menjaga kelancaran operasi, keselamatan kerja, dan keberlangsungan bisnis.
Salah satu elemen penting dalam analisis risiko adalah severity, yang berperan menentukan tingkat keparahan dampak apabila risiko terjadi. Artikel ini membahas secara komprehensif tentang pengertian severity, perbedaannya dengan priority, tingkatan severity, cara penilaiannya, penerapannya dalam berbagai bidang, manfaatnya, serta integrasinya dalam proses manajemen risiko dengan metode-metode analitis yang umum digunakan.
Pengertian dan Definisi Severity
Severity dalam konteks analisis risiko adalah ukuran atau penilaian terhadap seberapa parah dampak yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa risiko terhadap operasional, keuangan, keselamatan, dan reputasi perusahaan.
Definisi ini menekankan bahwa severity tidak hanya mengukur kerugian finansial, tetapi juga dampak non-moneter seperti gangguan operasional, penurunan produktivitas, dan kerusakan reputasi. Dengan mengukur severity, perusahaan dapat mengklasifikasikan risiko dan menentukan prioritas penanganan yang tepat.
Perbedaan Severity dan Priority
Penting untuk membedakan antara severity dan priority dalam analisis risiko. Meskipun keduanya berhubungan, mereka memiliki fokus yang berbeda dalam penilaian dan pengelolaan risiko.
Fokus Penilaian
- Severity: Berfokus pada seberapa besar dampak atau kerusakan yang terjadi jika risiko terealisasi. Ukuran ini mengukur intensitas atau keparahan akibat risiko.
- Priority: Mengacu pada urutan atau ranking risiko berdasarkan kombinasi antara kemungkinan terjadinya dan tingkat dampak (severity). Prioritas menentukan risiko mana yang harus segera ditangani berdasarkan urgensinya.
Faktor yang Mempengaruhi
- Severity: Dipengaruhi oleh besaran kerugian, tingkat kerusakan pada aset, dampak terhadap keselamatan karyawan, dan gangguan operasional.
- Priority: Selain severity, juga dipengaruhi oleh frekuensi atau probabilitas terjadinya risiko. Kombinasi kedua faktor ini menghasilkan penentuan prioritas yang lebih menyeluruh.
Penggunaan dalam Pengambilan Keputusan
- Severity: Menjadi dasar untuk memahami potensi konsekuensi dari risiko dan menentukan apakah risiko tersebut bersifat kritis.
- Priority: Digunakan untuk mengalokasikan sumber daya dan menetapkan urutan tindakan mitigasi, sehingga risiko dengan kombinasi severity dan probabilitas tertinggi mendapat perhatian utama.
baca juga : Teknik Fishbone Diagram untuk Analisis Akar Penyebab Masalah Kualitas
Tingkatan Severity
Penilaian severity seringkali diklasifikasikan ke dalam beberapa tingkatan, yang memudahkan pemahaman dan pengukuran dampak risiko. Berikut adalah tingkatan-tingkatan tersebut:
1. Negligible
Risiko dengan dampak yang sangat kecil atau hampir tidak berdampak. Kerugian yang terjadi bersifat minimal dan tidak mengganggu operasi secara signifikan.
2. Minor
Risiko yang menyebabkan dampak ringan. Meskipun menimbulkan gangguan, dampaknya masih dapat ditangani tanpa mengakibatkan kerugian besar.
3. Moderate
Risiko dengan dampak sedang, di mana kerugian yang terjadi cukup signifikan sehingga memerlukan perhatian dan penanganan khusus, meskipun tidak mengancam kelangsungan operasi secara langsung.
4. Major
Risiko dengan dampak yang besar, menyebabkan kerusakan serius, gangguan operasional yang signifikan, atau kerugian finansial yang besar. Penanganannya memerlukan alokasi sumber daya yang besar.
5. Catastrophic
Risiko dengan dampak yang sangat parah dan mengancam kelangsungan bisnis. Dampaknya dapat menyebabkan kerugian yang tidak dapat diperbaiki, kerusakan aset yang besar, dan bahkan menimbulkan risiko keselamatan yang tinggi.
Cara Menilai Severity
Untuk menilai severity, perusahaan dapat mengikuti serangkaian langkah untuk mengidentifikasi dan mengukur potensi dampak yang ditimbulkan oleh suatu risiko. Proses ini melibatkan pengumpulan data, penggunaan skala penilaian, dan penetapan kriteria yang jelas.
- Identifikasi Dampak: Menentukan aspek-aspek yang terdampak seperti finansial, operasional, keselamatan, dan reputasi.
- Skala Penilaian: Menggunakan skala numerik atau kualitatif (misalnya, 1-5 atau kategori negligible hingga catastrophic) untuk mengukur keparahan dampak.
- Kriteria Evaluasi: Menetapkan kriteria yang jelas untuk masing-masing tingkatan dampak, sehingga penilaian menjadi konsisten dan objektif.
- Penggunaan Matriks Risiko: Mengintegrasikan penilaian severity dengan probabilitas risiko untuk mendapatkan gambaran prioritas risiko secara keseluruhan.
Baca juga : Praktik Terbaik Measurement System Analysis (MSA) untuk Keberhasilan Six Sigma
Penerapan Severity dalam Berbagai Bidang
Konsep severity diterapkan dalam berbagai aspek industri manufaktur, mulai dari keselamatan kerja hingga dampak terhadap kualitas produk. Masing-masing bidang ini memerlukan pendekatan severity yang berbeda tergantung pada karakteristik risiko yang ada.
- Keselamatan Kerja: Menilai dampak kecelakaan atau insiden yang dapat mengancam keselamatan karyawan.
- Kualitas Produksi: Mengukur potensi kerusakan produk yang dapat mengganggu reputasi dan kepuasan pelanggan.
- Keuangan: Menilai potensi kerugian finansial akibat gangguan operasional atau kerusakan aset.
- Lingkungan: Mengukur dampak lingkungan dari kejadian industri yang dapat menyebabkan pencemaran atau kerusakan ekosistem.
- Operasional: Menilai gangguan pada rantai pasokan dan produksi yang dapat mengakibatkan penurunan produktivitas.
Baca juga : Memanfaatkan Quality Function Deployment (QFD) untuk Pengembangan Produk
Manfaat Penilaian Severity
Penilaian severity membantu perusahaan dalam memahami dampak dari risiko yang ada. Dengan mengukur severity, perusahaan dapat menentukan prioritas penanganan, merencanakan mitigasi yang tepat, dan meminimalkan kerugian yang mungkin timbul.
- Pemahaman Dampak Risiko: Menyediakan gambaran jelas tentang seberapa besar konsekuensi yang mungkin terjadi.
- Prioritas Risiko: Membantu menentukan risiko mana yang harus diatasi terlebih dahulu berdasarkan tingkat keparahannya.
- Pengambilan Keputusan yang Tepat: Menjadi dasar dalam alokasi sumber daya dan perencanaan strategi mitigasi risiko.
- Peningkatan Keselamatan dan Kualitas: Mendukung upaya peningkatan keselamatan kerja, kualitas produksi, dan efisiensi operasional.
- Perencanaan Keuangan: Memungkinkan perencanaan cadangan anggaran untuk menanggulangi kerugian potensial.
Baca juga : Bikin Produksi Terhambat, Ini Masalah Umum Distribusi dan Solusinya
Integrasi Severity dalam Proses Manajemen Risiko
Severity berperan penting dalam seluruh proses manajemen risiko, mulai dari identifikasi, analisis, evaluasi, hingga penanganan risiko. Proses ini memastikan bahwa risiko dengan severity tinggi ditangani lebih awal untuk mengurangi dampak buruk bagi perusahaan.
1. Identifikasi Risiko
Mengidentifikasi risiko yang mungkin terjadi di berbagai aspek operasional dan menentukan potensi dampaknya.
2. Analisis Risiko
Menggunakan severity sebagai salah satu parameter utama untuk menganalisis seberapa besar dampak yang ditimbulkan oleh risiko.
3. Evaluasi Risiko
Mengevaluasi risiko berdasarkan kombinasi antara tingkat keparahan (severity) dan kemungkinan terjadinya (probabilitas) untuk menghasilkan prioritas penanganan.
4. Penanganan Risiko
Merancang dan menerapkan strategi mitigasi yang sesuai, di mana risiko dengan severity tinggi mendapatkan perhatian khusus untuk mengurangi dampaknya.
Baca juga : Cara Menghitung Risk Priority Number dalam FMEA
Metode Penilaian Severity dalam Manajemen Risiko
Untuk menilai severity secara sistematis, terdapat beberapa metode yang umum digunakan dalam manajemen risiko, seperti Analisis Skenario, Fault Tree Analysis (FTA), dan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). Metode-metode ini memberikan pendekatan yang lebih mendalam untuk memahami dan mengurangi dampak risiko.
1. Analisis Skenario
Metode ini melibatkan pembuatan berbagai skenario potensi risiko untuk mengevaluasi dampak yang mungkin terjadi. Dengan mensimulasikan kejadian nyata, perusahaan dapat mengukur tingkat keparahan dampak secara lebih akurat.
2. Analisis Dampak Bisnis (BIA)
BIA digunakan untuk menilai konsekuensi dari gangguan operasional terhadap fungsi bisnis kritis. Melalui pendekatan ini, perusahaan dapat mengukur severity berdasarkan dampak pada kelangsungan operasional dan finansial.
3. Fault Tree Analysis (FTA)
FTA merupakan metode analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi akar penyebab kegagalan. Dengan memetakan hubungan sebab-akibat, perusahaan dapat menentukan seberapa parah dampak dari setiap titik kegagalan.
4. Failure Mode and Effects Analysis (FMEA)
FMEA adalah pendekatan sistematis yang digunakan untuk mengidentifikasi potensi kegagalan dalam proses produksi atau sistem. Setiap mode kegagalan dievaluasi berdasarkan severity, frekuensi terjadinya, dan kemampuan deteksinya, sehingga membantu dalam menetapkan prioritas mitigasi.
5. Analisis Bow-Tie
Metode ini menggabungkan elemen dari fault tree dan event tree analysis untuk memberikan gambaran visual tentang hubungan antara penyebab risiko, kejadian, dan konsekuensi. Analisis bow-tie membantu dalam memahami tingkat keparahan dampak serta langkah-langkah mitigasi yang diperlukan.
Baca juga : Cara Implementasi FMEA untuk Mengurangi Risiko dan Meningkatkan Produktivitas
Kesimpulan
Dengan memahami definisi dan tingkatan severity, serta membedakannya dari priority, perusahaan dapat menentukan strategi mitigasi yang tepat dan efisien. Integrasi severity dalam setiap tahap manajemen risiko mulai dari identifikasi hingga penanganan membantu dalam mengoptimalkan pengambilan keputusan, menjaga kontinuitas operasional, dan melindungi aset serta reputasi perusahaan.