Bukan Pemegang Saham! Inilah Definitive Stakeholders dengan Pengaruh Tertinggi

Bukan Pemegang Saham! Inilah Definitive Stakeholders dengan Pengaruh Tertinggi

Rate this post

Selama ini, banyak orang masih berpikir bahwa pemegang saham adalah pihak yang paling menentukan arah sebuah perusahaan. Logis, karena mereka menanamkan modal dan berharap imbal hasil. Namun, realitas bisnis modern menunjukkan cerita yang lebih kompleks.

Di era digital, keterbukaan informasi, dan meningkatnya kesadaran publik, ada kelompok lain yang justru punya pengaruh lebih besar terhadap keberlangsungan organisasi. Mereka disebut definitive stakeholders, pihak-pihak yang meskipun bukan pemilik saham, tetapi mampu memengaruhi keputusan strategis perusahaan secara signifikan.

Tren terbaru menunjukkan bahwa perusahaan yang gagal memahami peran stakeholder kunci sering kali menghadapi krisis reputasi, boikot, hingga tekanan regulasi. Laporan Edelman Trust Barometer 2024, misalnya, menegaskan bahwa kepercayaan publik kini menjadi aset strategis setara dengan modal finansial.

Lalu, siapa sebenarnya definitive stakeholders itu? Mengapa mereka begitu berpengaruh? Dan bagaimana perusahaan seharusnya merespons?

Mari kita bahas secara mendalam.

 

Memahami Konsep Definitive Stakeholders

Apa Itu Definitive Stakeholders?

Seringkali kita berpikir bahwa bos atau pemegang saham adalah penentu utama nasib perusahaan. Well, itu benar, tapi realitas bisnis modern (apalagi di era digital ini) jauh lebih kompleks. Ada kelompok yang diam-diam punya power yang super besar, bahkan seringkali bikin manajemen lebih deg-degan daripada laporan investor. Mereka inilah yang disebut Definitive Stakeholders.

Intinya, definitive stakeholders ini bukan sembarang pihak yang berkepentingan. Konsep ini dicetuskan oleh Mitchell, Agle, dan Wood (1997) dalam model stakeholder salience mereka. Untuk bisa dapat label ‘definitif’, sebuah pihak wajib punya tiga atribut ini sekaligus:

  1. Power (Kekuasaan): Mereka punya kemampuan nyata untuk memengaruhi keputusan dan arah perusahaan, entah itu secara langsung (misalnya lewat regulasi) atau tidak langsung (misalnya lewat boikot).
  2. Legitimacy (Legitimasi): Hubungan atau klaim mereka terhadap perusahaan itu sah dan pantas. Mereka diakui sebagai pihak yang wajar punya kepentingan di situ.
  3. Urgency (Tingkat Kepentingan Mendesak): Klaim yang mereka ajukan menuntut perhatian super cepat dan sensitif waktu. Kalau diabaikan, risiko yang timbul bisa langsung meledak jadi krisis.

Karena ketiga elemen Power, Legitimacy, dan Urgency ini terkumpul jadi satu, praktis suara para definitive stakeholders ini hampir pasti akan didengar dan ditindaklanjuti. Mereka ini punya daya tekan yang tinggi banget ke strategi bisnis perusahaan.

Contoh Nyata Aktor Penentu Ini:

  • Regulator Pemerintah: Ini contoh klasik. Mereka punya power buat mencabut izin atau kasih denda (Urgency).
  • Karyawan Kunci: Mereka yang pegang operasional harian. Kalau mereka resign massal atau mogok, bisnis bisa langsung lumpuh.
  • Pelanggan Strategis: Terutama di bisnis B2B, kehilangan satu klien besar bisa langsung menghantam pendapatan.
  • Masyarakat Terdampak Langsung: Khususnya di industri ekstraktif. Kalau masyarakat sekitar menolak, social license to operate bisa hilang, dan proyek raksasa pun terhenti.

Tren & Insight: Kenapa Definitive Stakeholders Makin Penting?

Kenyataannya, tekanan dari publik dan regulator kini menjadi faktor yang jauh lebih memengaruhi strategi bisnis daripada tekanan dari investor semata. Laporan PwC Global Risk Survey 2023 bahkan mengonfirmasi, lebih dari 70% eksekutif mengakui hal ini.

Ini menunjukkan adanya pergeseran fokus. Perusahaan modern nggak bisa lagi cuma mikirin profit buat pemegang saham. Mereka wajib mengelola hubungan dengan definitive stakeholders ini dengan serius. Mengabaikan mereka = mengundang krisis reputasi, sanksi hukum, bahkan penghentian operasi. Intinya, mereka adalah kunci sustainability (keberlanjutan) perusahaan jangka panjang.

Baca juga : Proses Berantakan, Tapi Target Tetap? Ini Cara Lean Management Merapikan Operasional

Mengapa Bukan Pemegang Saham Bisa Lebih Berpengaruh?

Banyak yang kaget, tapi di zaman sekarang, pemegang saham itu cuma salah satu bagian dari papan catur. Ada tiga alasan kuat kenapa kelompok yang kita sebut definitive stakeholders ini bisa lebih menentukan nasib perusahaan daripada para pemilik modal itu sendiri

1. Karena Mereka Mengontrol Operasional Sehari-hari

Pemegang saham memang sibuk dengan kebijakan makro dan rencana besar. Tapi, siapa yang benar-benar menjalankan mesin perusahaan setiap hari? Jawabannya adalah karyawan kunci, manajer operasional, dan mitra bisnis. Mereka inilah yang memegang kendali atas eksekusi harian dan kualitas.

Bayangkan jika dukungan mereka hilang:

  • Proses bisnis langsung melambat,
  • Kualitas layanan menurun drastis, dan
  • Inovasi terhambat total.

Karena peran krusial ini, tak heran jika talenta kunci sering disebut sebagai “aset tak berwujud” paling bernilai. Bahkan, Laporan McKinsey 2024 membuktikan bahwa perusahaan dengan employee engagement tinggi punya produktivitas 18–23% lebih unggul dari kompetitor. Ini menunjukkan bahwa kekuatan kendali operasional sehari-hari jauh lebih vital ketimbang sekadar suntikan dana.

2. Karena Mereka Membentuk Reputasi Publik

Di era media sosial yang serba cepat, persepsi publik bisa berubah dalam hitungan jam. Kelompok seperti konsumen, aktivis, dan komunitas lokal punya kekuatan besar dalam membentuk narasi dan citra merek Anda.

Satu keluhan viral atau isu yang diangkat aktivis bisa langsung memicu krisis reputasi. Dampaknya bisa meluas:

  • Terjadinya penurunan kepercayaan konsumen.
  • Anjloknya penjualan produk atau layanan.
  • Timbulnya tekanan besar terhadap manajemen.

Intinya, reputasi publik kini bukan lagi hanya urusan branding, melainkan soal kelangsungan bisnis itu sendiri. Data Sprout Social Index 2024 menggarisbawahi hal ini: 78% konsumen lebih memilih merek yang dianggap memiliki tanggung jawab sosial

3. Karena Mereka Bisa Menghentikan Operasi

Ini adalah power yang paling nyata dan tak terbantahkan. Regulator pemerintah adalah contoh klasik dari definitive stakeholders yang memiliki kekuasaan nyata dan langsung. Keputusan mereka bisa langsung menghentikan atau membatasi aktivitas perusahaan, terlepas dari seberapa besar modal yang dimiliki pemegang saham.

Kekuasaan ini diwujudkan melalui:

  • Penerbitan Denda yang besar.
  • Pencabutan izin operasi.
  • Pengumuman regulasi baru yang membatasi gerak perusahaan.

Dalam konteks ini, kekuasaan mereka bersifat nyata dan langsung. Ketika pemerintah atau regulator mengeluarkan keputusan, perusahaan harus patuh, menjadikannya faktor penentu utama yang seringkali harus didahulukan daripada kepentingan investor.

 

Siapa Saja Definitive Stakeholders di Dunia Nyata?

Pemerintah dan Regulator

Di daftar para Definitive Stakeholders, nama Pemerintah dan Regulator adalah aktor klasik yang punya pengaruh tak terbantahkan. Mereka ini ibarat wasit dan polisi sekaligus dalam dunia bisnis. Kenapa mereka begitu ‘definitive’? Karena mereka punya kombinasi sempurna dari tiga atribut kunci:

  • Power (Kekuasaan): Mereka punya kewenangan hukum untuk membuat aturan main. Kalau mereka bilang “berhenti,” ya perusahaan harus berhenti.
  • Legitimacy (Legitimasi): Status mereka adalah otoritas resmi yang diakui negara, jadi klaim dan tuntutan mereka sudah pasti sah dan pantas.
  • Urgency (Tingkat Kepentingan Mendesak): Kebutuhan akan kepatuhan muncul mendesak, terutama saat terjadi pelanggaran. Kalau ada masalah, mereka bisa langsung turun tangan dengan cepat.

Kekuasaan mereka ini bersifat nyata. Mereka bisa langsung mencabut izin operasi, menerbitkan Denda yang besar, atau mengumumkan regulasi baru yang membatasi gerak perusahaan.

Contoh Nyata ‘Wasit’ Bisnis:

  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK): Mengawasi bank dan sektor keuangan.
  • Kementerian Lingkungan Hidup: Menentukan apakah proyek besar Anda ramah lingkungan atau tidak.
  • Badan Perlindungan Konsumen (BPK): Memastikan hak-hak konsumen terpenuhi.

Insight Penting Mengenai Tren Global:

Tren global saat ini menunjukkan peningkatan regulasi terkait ESG (Environmental, Social, Governance). Artinya, perusahaan tidak bisa lagi seenaknya mengabaikan isu keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. Perusahaan yang abai terhadap standar ESG akan semakin sulit mendapatkan izin proyek baru, menghadapi sanksi, dan bahkan sulit mengakses pendanaan. Singkatnya, mengikuti kata regulator bukan lagi soal ketaatan, tapi soal kelangsungan bisnis jangka panjang.

Karyawan dan Serikat Pekerja

Sering dianggap hanya sebagai tenaga kerja, padahal mereka adalah duta merek perusahaan yang berjalan. Coba bayangkan, kalau turnover (pergantian karyawan) mendadak tinggi atau terjadi aksi mogok, stabilitas perusahaan langsung terganggu, operasional bisa lumpuh.

Fenomena “Great Resignation” pasca pandemi membuktikan bahwa karyawan kini lebih selektif terhadap nilai dan budaya perusahaan. Mereka nggak cuma butuh gaji, tapi juga purpose. Mengelola mereka bukan cuma soal HRD, tapi soal kelangsungan bisnis karena mereka memegang kunci eksekusi harian dan inovasi.

Pelanggan Strategis

Kalau Anda berbisnis di sektor B2B (Business-to-Business), kehilangan satu klien besar bisa langsung membuat laporan pendapatan babak belur. Klien-klien yang punya kontribusi finansial besar inilah yang disebut pelanggan strategis.

Mereka punya kombinasi Definitive Stakeholder yang sempurna:

  • Power: Kontribusi finansial yang sangat besar.
  • Legitimacy: Mereka terikat dalam hubungan bisnis yang resmi.
  • Urgency: Kebutuhan operasional mereka harus dipenuhi super cepat; jika tidak, mereka bisa pindah dan perusahaan merugi besar.

Mengabaikan mereka adalah risiko yang fatal bagi strategi bisnis perusahaan.

Komunitas dan Masyarakat Lokal

Ini adalah aktor kunci, terutama bagi perusahaan yang bergerak di industri ekstraktif seperti pertambangan atau energi. Masyarakat sekitar adalah penentu apakah perusahaan Anda punya izin sosial (social license to operate).

Meskipun perusahaan sudah punya izin dari pemerintah, penolakan masyarakat bisa memicu:

  • Protes dan demonstrasi.
  • Blokade akses ke lokasi proyek.
  • Tekanan politik lokal yang berujung pada penghentian operasi.

Intinya, jika perusahaan gagal mendapatkan restu dari masyarakat lokal, proyek raksasa pun bisa terhenti. Ini membuktikan bahwa pengaruh sosial bisa jauh lebih kuat daripada modal finansial semata.

Baca juga : Manusia (Man) Sering Jadi Akar Masalah: Cara Tepat Menganalisis Faktor SDM dalam Fishbone Diagram

Studi Kasus Singkat: Ketika Definitive Stakeholders Mengubah Arah Perusahaan

Ini adalah salah satu kisah yang paling sering terjadi di dunia bisnis modern, di mana uang besar pun bisa kalah dengan suara lantang.

Coba lihat kasus sebuah perusahaan global yang terpaksa menghentikan proyek raksasa mereka padahal sudah dijanjikan keuntungan yang menggiurkan. Apa penyebabnya? Bukan karena investor menarik modal, tapi murni akibat tekanan publik yang datang dari berbagai arah.

Kombinasi antara penolakan keras dari komunitas lokal (yang kehilangan lahan atau terdampak lingkungan) dan gempuran dari aktivis lingkungan (yang menyoroti isu keberlanjutan dan tanggung jawab sosial) menciptakan badai yang tak terhindarkan.

Meskipun hitungan finansial proyek itu sangat menguntungkan, manajemen perusahaan akhirnya dipaksa mengubah strategi bisnis. Mengapa? Karena mereka sadar, melawan kombinasi tekanan publik, ancaman regulasi dari pemerintah, dan hancurnya reputasi akan jauh lebih merugikan daripada menghentikan proyek itu sendiri.

Pelajaran penting: Kasus ini membuktikan bahwa di era ini, keputusan bisnis tidak bisa lagi hanya berbasis hitungan finansial. Definitive stakeholders ini punya social license to operate (izin sosial untuk beroperasi) yang jauh lebih berharga daripada izin formal semata. Jika itu hilang, modal sebesar apa pun tidak akan bisa menyelamatkan perusahaan.

 

Peran Definitive Stakeholders dalam Strategi Bisnis Modern

Dari Shareholder-Centric ke Stakeholder-Centric

Dulu, paradigma bisnis itu shareholder-centric (berpusat pada pemegang saham). Fokus utama manajemen adalah memaksimalkan keuntungan buat investor. Sekarang, banyak perusahaan top beralih ke pendekatan stakeholder-centric.

Artinya, keberhasilan diukur dengan kacamata yang lebih lebar, yaitu:

  • Dampak Sosial: Bagaimana perusahaan memberikan kontribusi positif ke masyarakat.
  • Keberlanjutan Lingkungan (Sustainability): Upaya untuk menjalankan praktik bisnis yang ramah lingkungan.
  • Kepuasan Stakeholder: Sejauh mana perusahaan bisa memenuhi kepentingan semua pihak berkepentingan kuncinya.

Tren: World Economic Forum sendiri secara konsisten mendorong konsep stakeholder capitalism sebagai model bisnis masa depan yang lebih berkelanjutan

Mendorong Transparansi dan Akuntabilitas

Definitive stakeholders ini punya peran besar dalam mendisiplinkan perusahaan. Mereka menuntut keterbukaan yang lebih serius. Tuntutan ini meliputi:

  • Laporan Keberlanjutan: Bukan cuma laporan keuangan, tapi juga bagaimana perusahaan mengelola isu sosial dan lingkungan.
  • Praktik Bisnis Etis: Memastikan setiap kegiatan perusahaan dilakukan secara bertanggung jawab dan sesuai etika.
  • Tata Kelola yang Baik (Good Governance): Struktur manajemen yang transparan dan akuntabel.

Intinya, perusahaan yang transparan itu lebih gampang dipercaya oleh publik dan regulator, yang merupakan kunci kelangsungan bisnis jangka panjang

Mempercepat Inovasi

Siapa bilang ide brilian cuma datang dari ruang rapat direksi? Masukan (feedback) dari definitive stakeholders seperti pelanggan, karyawan, dan mitra justru sering jadi “bahan bakar” utama inovasi yang out of the box.

Contoh nyatanya:

  • Pengembangan Produk Ramah Lingkungan: Ini muncul karena adanya tuntutan dari konsumen dan aktivis lingkungan.
  • Layanan Berbasis Kebutuhan Nyata Pengguna: Pengembangan produk jadi lebih relevan dan bermanfaat karena didorong oleh masukan langsung dari pelanggan strategis.

Dengan mendengarkan mereka, perusahaan tidak hanya mematuhi aturan, tetapi juga menciptakan nilai baru yang memperkuat posisi pasar mereka.

 

Tantangan Mengelola Definitive Stakeholders

Kepentingan yang Bertabrakan

Coba bayangkan: Regulator fokusnya 100% pada kepatuhan, mereka maunya perusahaan patuh pada semua aturan, kadang biayanya mahal. Sementara itu, pelanggan maunya harga serendah mungkin dengan kualitas terbaik.

 Dua kepentingan ini jelas-jelas bisa bertabrakan. Tugas utama manajemen di sini adalah mencari titik temu dan menyeimbangkan berbagai tuntutan yang berbeda ini. Kalau salah langkah, bisa-bisa perusahaan melanggar aturan atau kehilangan pasar.

Kompleksitas Komunikasi

Semakin banyak pihak yang Anda sebut definitive stakeholders, semakin rumit alur komunikasi yang dibutuhkan. Setiap kelompok punya bahasa, saluran, dan ekspektasi yang berbeda. 

Salah mengirim pesan sedikit saja, atau ada misinterpretasi, bisa langsung berujung pada krisis reputasi yang tak terduga. Perusahaan perlu strategi komunikasi yang super hati-hati dan terstruktur untuk menjaga narasi tetap positif.

Biaya dan Sumber Daya

Membangun dan merawat hubungan dengan definitive stakeholders bukanlah pekerjaan sampingan. Ini butuh investasi besar, baik dari segi waktu, tenaga, maupun dana. 

Mulai dari sesi engagement dengan komunitas, menyusun laporan keberlanjutan, hingga memenuhi tuntutan regulasi baru, semuanya butuh sumber daya. Namun, perlu dicatat: biaya untuk investasi ini sering kali jauh lebih kecil daripada kerugian finansial dan reputasi yang timbul akibat konflik berkepanjangan. 

Jadi, ini adalah biaya yang wajib dikeluarkan untuk kelangsungan bisnis jangka panjang.

 

Tips Praktis Mengelola Definitive Stakeholders

Mengelola pihak-pihak dengan pengaruh sebesar definitive stakeholders memang menantang. Tapi, ada beberapa kiat praktis yang bisa diterapkan manajemen agar hubungan tetap harmonis dan strategi bisnis berjalan lancar. Berikut adalah 4 langkah utamanya:

1. Lakukan Stakeholder Mapping

Langkah pertama adalah tahu betul “siapa lawan dan siapa kawan.” Lakukan pemetaan untuk identifikasi siapa saja stakeholder utama perusahaan Anda, seberapa besar tingkat pengaruhnya, dan apa saja kepentingannya masing-masing. 

Jangan sampai Anda fokus pada pihak yang minim power sementara regulator atau komunitas lokal yang punya pengaruh besar malah terabaikan. Pemetaan ini krusial untuk alokasi sumber daya.

2. Bangun Komunikasi Dua Arah

Komunikasi di sini bukan cuma soal mengirim press release atau laporan. Ini tentang menciptakan dialog. Perusahaan tidak boleh hanya menyampaikan informasi, tetapi wajib mendengarkan masukan (feedback), keluhan, dan harapan dari pihak berkepentingan ini. 

Komunikasi yang terbuka dan dua arah adalah kunci untuk membangun kepercayaan publik dan mencegah kesalahpahaman yang bisa memicu krisis reputasi.

3. Integrasikan ke Strategi Perusahaan

Isu stakeholder tidak bisa dianggap sebagai aktivitas Public Relations (PR) belaka atau sekadar ‘pemadam kebakaran’ saat terjadi masalah. 

Isu ini harus menjadi bagian fundamental dari perencanaan strategis dan proses pengambilan keputusan bisnis inti. Dengan mengintegrasikannya, perusahaan menunjukkan komitmen serius terhadap tanggung jawab sosial dan keberlanjutan jangka panjang.

4. Gunakan Data dan Insight

Untuk memahami perubahan ekspektasi para definitive stakeholders, jangan mengandalkan asumsi. Manfaatkan data dan insight nyata. Lakukan survei, analisis feedback dari media sosial, dan pelajari analisis tren yang relevan. 

Misalnya, jika tren ESG sedang menguat, perusahaan perlu data konkret mengenai dampak lingkungan untuk merespons tuntutan regulasi dan aktivis lingkungan. Ini membantu perusahaan bertindak proaktif, bukan reaktif.

 

Masa Depan: Siapa yang Akan Semakin Berpengaruh?

Ke depan, peta permainan stakeholder ini akan semakin ramai dan beragam, terutama di era digital ini. Kelompok yang punya power akan bertambah, tidak terbatas pada aktor tradisional.

Definitive Stakeholders di masa mendatang akan mencakup:

  • Komunitas Digital: Mereka yang bisa menciptakan badai viral dalam hitungan jam.
  • Platform Teknologi: Pihak yang mengontrol infrastruktur digital tempat perusahaan beroperasi.
  • Organisasi Internasional: Badan-badan yang bisa mendikte standar keberlanjutan dan etika global.

Tekanan terhadap isu-isu makro seperti perubahan iklim, privasi data, dan kesetaraan sosial akan semakin kuat. Ini akan menjadi faktor penentu utama dalam strategi bisnis perusahaan. Perusahaan yang adaptif, cepat membaca tren, dan gesit dalam mengelola risiko reputasi akan bertahan. Sebaliknya, organisasi yang abai terhadap suara-suara ini, perlahan akan tertinggal dan bahkan terancam gulung tikar.

 

Kesimpulan

Di dunia bisnis modern, kekuasaan tidak lagi hanya berada di tangan para pemegang saham yang membawa modal. Definitive stakeholders mulai dari regulator yang menjamin kepatuhan, karyawan yang mengendalikan eksekusi harian, pelanggan strategis yang membawa pendapatan besar, hingga masyarakat yang memberikan izin sosial memiliki pengaruh nyata terhadap arah dan kelangsungan perusahaan.

Bagi manajemen, memahami, melibatkan, dan mengelola mereka bukan sekadar kewajiban moral atau tugas Public Relations (PR) belaka, tetapi adalah strategi kunci untuk bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.

Satu pertanyaan krusial untuk Anda sekarang: apakah perusahaan Anda sudah benar-benar mengenali siapa definitive stakeholders yang paling menentukan nasib bisnis Anda?

FAQ (Frequently Asked Questions)

Untuk memperjelas konsep inti dari Definitive Stakeholders, berikut adalah jawaban atas beberapa pertanyaan umum (FAQ):

  1. Apa perbedaan stakeholder biasa dan definitive stakeholders?
    Definitive stakeholders adalah kelompok khusus yang memiliki tiga atribut sekaligus, yaitu Power (kekuasaan), Legitimacy (legitimasi), dan Urgency (tingkat kepentingan mendesak). Kombinasi ketiga elemen ini membuat pengaruh mereka jauh lebih kuat dan hampir pasti ditindaklanjuti oleh manajemen dibandingkan stakeholder biasa.
  2. Apakah pemegang saham termasuk definitive stakeholders?
    Bisa iya, jika mereka juga memenuhi ketiga atribut tersebut secara bersamaan. Jika pemegang saham hanya menanamkan modal tanpa kemampuan langsung untuk memengaruhi keputusan operasional atau tanpa klaim mendesak, mereka mungkin bukan definitive stakeholders dalam konteks ini.
  3. Mengapa regulator sangat berpengaruh?
    Mereka sangat berpengaruh karena memiliki kewenangan hukum yang langsung dan nyata. Keputusan mereka—seperti penerbitan denda, pencabutan izin, atau pengumuman regulasi baru—langsung berdampak pada operasi dan kelangsungan perusahaan.
  4. Bagaimana cara mengidentifikasi definitive stakeholders?
    Cara terbaik adalah melalui Stakeholder Mapping. Proses ini melibatkan identifikasi semua stakeholder utama, kemudian menganalisis secara spesifik tingkat pengaruh (power), keabsahan klaim (legitimacy), dan seberapa mendesak tuntutan mereka (urgency).
  5. Apa risiko jika perusahaan mengabaikan definitive stakeholders?
    Mengabaikan mereka sama dengan mengundang krisis besar, yang meliputi: krisis reputasi, sanksi hukum dari regulator, hingga penghentian operasi bisnis (kehilangan social license to operate).
  6. Apakah pendekatan stakeholder-centric mengurangi fokus pada profit?
    Tidak. Pendekatan ini justru membantu menciptakan profit jangka panjang yang berkelanjutan. Dengan memenuhi kepentingan stakeholders kunci (termasuk masyarakat dan lingkungan), perusahaan mengurangi risiko konflik dan krisis, yang pada akhirnya menjamin stabilitas dan profitabilitas di masa depan.
  7. Apakah UKM juga perlu memperhatikan definitive stakeholders?
    Ya, tentu saja. Bahkan bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM), pelanggan utama dan komunitas lokal sering menjadi penentu utama keberlangsungan usaha. Pengaruh mereka bisa sangat langsung terhadap kelangsungan operasional UKM.

 

Spread the love
Oh no...This form doesn't exist. Head back to the manage forms page and select a different form.
Oh no...This form doesn't exist. Head back to the manage forms page and select a different form.
Oh no...This form doesn't exist. Head back to the manage forms page and select a different form.